I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Susu merupakan sumber protein, sumber energi sehingga dapat
memberikan kepada kita kesehatan, maka dari itu minat beli masyarakat
sangat tinggi walaupun harga susu kadang-kadang naik tetapi tidak menyurutkan
daya beli masyarakat terhadap produksi susu.
Susu merupakan hasil utama dari ternak selain daging dan
telur yang sangat diminati oleh masyarakat dan susu sangat bermamfaat
bagi kebutuhan manusia tetapi juga sangat dibutuhkan oleh anak dari ternak itu
sendiri, karena air susu yang pertama kali keluar dari induk mengandung banyak
sekali anty bodi atau pelindung tubuh anak agar tidak mudah terserang oleh
berbagai penyakit yang bisa menyebabkan ternak itu cacat atau mati.
1.2
Tujuan Praktikum
Praktikum Produksi Ternak Perah sangat
penting sekali bagi kehidupan manusia, karena hasil yang diharapkan dapat
menambah wawasan yang lebih luas tentang susu, sehingga mahasiswa dapat
memahami peranan susu yang sebenarnya dan paham untuk menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Karena susu mengandung gizi tinggi dan seimbang yang
ditumbuhkan manusia untuk mengetahui proses terjadinya susu dan kegunaannya,
serta berbagai jenis dan bangsa ternak yang dapat menghasilkan susu maka perlu
pemahaman tentang aspek yang mendasar tentang ternak perah.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
Dengan metode tuang yang
digunakan untuk menghitung mikroba, jumlah mikroba yang dihasilkan tidak banyak
tetapi penumbuhan mikroba pada metode tuang lebih rata daripada metode sebar
(James.N, 2003).
Metode sebar adalah salah
satu metode cara sensitive unuk menumbuhkan mikroba. Karena banyak sel yang
hidup yang dihitung, beberapa mikroba dapat dihitung sekaligus (Siregar, 2004)
Susu yang banyak mengandung mikroorganisme
phatogen dalam jumlah besar yaitu dari hewan yang menderita radang ambing
(Mastitis). Mikroorganisme pada ambing dan puting yang kasar antara lain
bakteri asam laktat, kloroform, dan bakteri negative lainnya. (Subroto, 2005)
Bakteri ada yang bersifat phatogen yang dapat
merugikan dan bakteri non phatogen yang dapat memberikan keuntungan (Devendra,
2008).
Metode hitungan cawan yaitu metode tuang dan sebar
merupakan metode paling sensitive dalam menentukan jumlah mikroba marena hanya
sel hidup yang dapat dihitung (Mozes, 2007).
Jumlah bakteri terhitung pada suatu pengenceran hasilnya dua
kali lebih besar dari pada jumlah bakteri terhitung pada pengencer sebelumnya,
maka yang digunakan adalah jumlah bakteri pada pengenceran yang besar.(Hediwiyoto, 2002)
Metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang
masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang
biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa
menggunakan mikroskop Metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu
:Metode tuang (pour plate), Metode permukaan (surface / spread plate). (Fardiaz, 2003)
III. MATERI
DAN METODA
3.1 Waktu
dan Tempat
Praktikum Produksi Ternak Perah ini dilaksanakan pada
hari Selasa, 24 November 2015 pada pukul 14.00WIB sampai dengan selesai, yang bertempat di Laboratorium Fakultas PeternakanGedung C,
Universitas Jambi.
3.2
Materi
Adapun alat dan
bahan yang digunakan pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi susu adalah
pelarut (phosphate buffer, peptone water 0,1%), media: PCA (Plate Count Agar),
botol 150 ml atau tabung rekasi 20-50 ml steril, pipet steril 1ml, 5ml, 10ml
dan 11 ml, penyedot pipet (bola karet), cawan petri steril, incubator,methilen
blue loffer, alkhohol 96%, alkhohol: ether 96% (1:1), minyak emersi, gelas
objek, ose plantina bengkok, kertas cetakan dengan ukuran 1X1 cm2,
pipet breed, pembakar Bunsen, mikroskop, reagen CMT dan paddle test.
3.3 Metoda
Adapun
metoda dari Perhitungan Mikroba secara Tidak Langsung dengan Metode Hitungan
Cawan melalui Metode Tuang pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi Susu adalah
beri label pada botol atau tabung reaksi yang berisi larutan pngencer dan cawan
petri. Lakukan pengenceran sample secara decimal (menjadi pengencer 1:10,
1:100, 1:1000 dan seterusnya). Skema cara pengenceran dapat dilihat pada gambar
1 berikut ini. Ambil sample 0,1 ml atau 1 ml yang telah diencerkan dan masukkan
kedalam cawan petri. Tuangkan media agar cair (suhu 44-450C)
sebanyak 12-15 ml untuk setiap cawan petri ( penuangan ini tidak boleh lebih
dari 15 menit). Selama penuangan media tutup cawan tidak boleh dibuka terlalu
lebar.Segera setelah penuangan media agar cair, goyangkan cawan membentuk angka
8 di atas meja untuk menyebarkan sel mikroba.Biarkan sampai media agar
memadat.Setelag agar memadat, masukkan cawan petri kedalam incubator dengan
posisi terbalik selama 24-36 jam pada suhu 30-320C.Hitung jumlah
koloni yang terdapat pada agar dan laporkan sebagai jumlah koloni per ml.
Adapun
metoda dari Perhitungan Mikroba secara Tidak Langsung dengan Metode Hitungan
Cawan melalui Metode Sebar atau Permukaan pada Praktikum Pemeriksaan
Mikrobiologi Susu adalah tuangkan 15 ml agar cair kedalam cawan petri dan
biarkan memadat. Pipet sampel yang sudah diencerkan 0,1 ml dan tuangkan diatas
agar yang sudah memadat. Sebarkan larutan sampel kedalam seluruh permukaan agar
dengan menggunakan ose Bangkok.Biarkan sampel mongering selama 15 menit,
kemudian cawan petri dibalik dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 30-320C.Lakukan
perhitungan koloni yang terdapat dalam agar.
Cara menghitung koloni:
Koloni per ml = jumlah koloni x 
Adapun
metoda dari Perhitungan Mikroba secara Langsung dengan Metode Hitungan
Mikroskopik pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi Susu adalah bersihkan gelas
objek dengan sabun dan air atau dengan alcohol, kemudian keringkan dengan
melewatkannya dengan beberapa kali di atas api. Letakkan objek gelas tersebut
di atas kertas cetakan. Teteskan susu 0,01 cc ke atas gelas objek dengan pipet
breed, kemudian sebar-ratakan sesuai dengan cetakan (1X1 cm2)
menggunakan ose bengkok yang steril. Kering-anginkan gelas objek selama 5-10
menit (sampai kering).Celupkan gelas objek ke dalam eter alcohol selama 2 menit
untuk menghilangkan lemaknya.Lakukan pengeringan di udara, kemudian rendam adalam
larutan methilen blue loffer selama 1 menit.Celupkan kedalam alcohol 96% sampai
gelas objek tidak terlihat keluar, kemudian keringkan di udara. Teteskan minyak
emersi ditiap luasan tadi, lalu baca dibawah mikroskop pembesar 100X sebanyak
10 lapang padang, kemudian rata-ratakan.
Cara menghitung koloni:
·
Tentukan diameter
lapang pandang (mm) sampai decimal ketiga, kemudian konversikan ke cm (1 mm=
0,001 cm).
·
Hitung luas lapang
pandang mikroskop dengan rumus πr2 (cm2) dimana π =
3,1416 dan jari-jari lapang pandang dalam cm (diameter x 0,50).
·
Hitung jumlah lapang
pandang dalam cm yaitu 1/πr2.
·
Karena hanya
menggunakan 0,01 ml susu yang disebar di atas permukaan seluas 1 cm2,
maka jumlah lapang pandang dikalikan 100. Nilai ini disebut factor mikroskopik.
·
Jumlah kuman tiap cm=
1/ πr2 x 100 x jumlah kuman pada lapang pandang.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode hitungan cawan dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan metode tuang dan metode sebar.
Metode hitungan cawan yaitu metode tuang dan sebar
merupakan metode paling sensitive dalam menentukan jumlah mikroba marena hanya
sel hidup yang dapat dihitung (Mozes, 2007).
• Metode Tuang
Dengan metode tuang yang digunakan untuk
menghitung mikroba, jumlah mikroba yang dihasilkan tidak banyak tetapi
penumbuhan mikroba pada metode tuang lebih rata daripada metode sebar (James.N,
2003).
Pada metode
hitungan cawan, perhitungan dengan menggunakan cawan tuang sedikit lebih baik,
karena dapat mengurangi kemungkinan kesalahan pada saat penyebaran.Bakteri ada
yang tidak tumbuh, salah satu penyebab yang mungkin terjadi adalah batang
penyebar yang terlalu panas. Penyebaran yang kurang merata juga menjadi salah
satu faktor yang membuat bakteri tumbuh secara bertumpuk dan susah dihitung.
(Anonim, 2009)
a.
Metode Sebar (Permukaan)
Metode sebar merupakan suatu
meode yang dapat menumbuhkan mikroba dengan jumlah yang banyak (Ida .B, 2006).Metode
sebar adalah salah satu metode cara sensitive unuk menumbuhkan mikroba. Karena
banyak sel yang hidup yang dihitung, beberapa mikroba dapat dihitung sekaligus
(Siregar, 2004)
Metode cawan sebar (spread plate)
sebar, 0.1 ml suspensi bakteri yang telah diencerkan disebar pada media
penyubur steril yang telah disiapkan. Selanjutnya, suspensi dalam cawan
diratakan dengan batang penyebari agar koloni tumbuh merata pada media dalam cawan
tersebut, kemudian diletakkan dalam inkubator (37oC) selama 24 jam. Metode ini cukup sulit terutama saat
meratakan suspensi dengan batang penyebar. Oleh karena itu, batang penyebar harus
benar-benar steril, yaitu dengan mencelupkannya terlebih dahulu dalam alkohol
kemudian dipanaskan dengan api bunsen. Batang penyebar yang masih panas akibat pemanasan dengan api bunsen,
dapat merusak media agar, sehingga harus didinginkan terlebih dahulu dengan
meletakkannya di sekitar api bunsen (±15 cm). Dengan metode ini, satu sel
bakteri akan tumbuh dan berkembang menjadi satu koloni bakteri. Satu koloni
bakteri yang terpisah dengan koloni lainnya dapat diamati tipe pertumbuhan pada
masing-masing media, diantaranya dilakukan terhadap konsistensi, bentuk koloni,
warna koloni dan permukaan koloni (Riesama, 2010).
Susu yang banyak mengandung mikroorganisme
phatogen dalam jumlah besar yaitu dari hewan yang menderita radang ambing
(Mastitis). Mikroorganisme pada ambing dan puting yang kasar antara lain
bakteri asam laktat, kloroform, dan bakteri negative lainnya (Subroto, 2005)
Susu setelah diinkubasikan, koloni yang tumbuh dihitung
dianggap bahwa 1 koloni berasal dari satu sel atau satu spora bacteria (Pelczar
dan Reid, 2000).
Bakteri ada yang bersifat phatogen yang dapat
merugikan dan bakteri non phatogen yang dapat memberikan keuntungan (Devendra,
2008).
Sejumlah kecil bakteri tidak mempngaruhi segera sita
rasa, bau susu atau sifat-sifat fisik dan kimianya (Subrinto, 2003).
Susu yang baik apabila mengandung jumlah bakteri
sedikit, tidak mengandung spora mikrobia pathogen, bersih yaitu tidak
mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa (flavour) yang baik, dan tidak
dipalsukan (Anonim
Kisaran hitung yang normal adalah selitar 25-250
koloni/cawan.
(Breed dan Dotterrer, 2006)
Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah
pengenceran desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4
dan 10-5.Dan yang diplating dan diamati adalah pengenceran 10-3,
10-4, dan 10-5.Hal ini karena diperkirakan koloni yang
terbentuk oleh Escherichia Coli berada pada jumlah yang dapat dihitung pada
pengenceran tersebut. Selain itu, perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah
dan cepat jika pengenceran dilakukan secara desimal. (Benhards, 2008)
Bila jumlah bakteri terhitung pada suatu pengenceran
hasilnya dua kali lebih besar dari pada jumlah bakteri terhitung pada pengencer
sebelumnya, maka yang digunakan adalah jumlah bakteri pada pengenceran yang
besar.(Hediwiyoto,
2002)
Menghitung jumlah mikroba yang hidup dalam susu dengan cara
ditumbuhkan dalam media agar sehingga dapat langsung dilihat metoda ini paling
sensitive untuk menentukan jumlah mikroba karena hanya sel yang masih hidup
yang dapat dihitung. (Salle, 2000)
Kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali
(triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data
analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda. (Tomasiewicz, 2006)
Pengenceran
digunakan karena untuk menumbuhkan bakteri pada media yang terbatas tidak
mungkin dilakukan penghitungan bakteri yang berjumlah puluhan ribu.Pengenceran
ini dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan bakteri pada sampel (Pelchzar,
2006).
Proses netralisasi dan penambahan asam okslat jenuh,
penambahan formalin akan membentuk gugusan dimetinol. Dengan terbentuknya
gugusan dimetinol berarti gugusan amino
sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi gugusan karboksil
(asam) dengan NaOH (basa), sehingga akhir titrasi dapat ditentukan dengan
tepat. Jumlah NaOH yang terpakai adalah setara dengan presentase protein susu”.
• Faktor untuk
susu 1,83, casein 1,63.
Kadar Protein (%) = titrasi formol
x factor 1,83
=
(titrasi kedua-titer blanko kedua) x factor 1,83
=
(2,1-0,3) x 1,83
=
3,294 %
Kadar Casein (%) = titrasi formol x
factor 1,63
=
(titrasi kedua-titer blanko kedua) x factor 1,63
=
(2,1-0,3) x 1,63
=
2,934 %
Kadar N (%) =
x N.NaOH x 14,008
=
x N.NaOH x 14,008
=
x 0,1 x 14,008
=
x
1,4008
=
0,025 %


V.
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Perhitungan sel secara langsung,
terdiri dari volumetrik, gravimetrik, kekeruhan perhitungan massa sel secara
tidak langsung, terdiri dari analisis komponen sel, analisis produk
katabolisme, dan analisis konsumsi nutrient. metode cawan tuang mudah dilakukan
karena tidak membutuhkan keterampilan khusus dengan hasil biakan yang cukup
baik.
5.2
Saran
Praktikan
sebaiknya disiplin lagi dengan peraturan yang telah dibuat dan lebih tertib
untuk kedepannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Alten D. Tilman, 2008PerbedaanHewanRuminansiadan
Non Ruminansia. http://mellyhatulhasanah.blogspot.com/2011/11/perbedaan-hewan-ruminansia-dan-non.html.
2011.
Adiyane,dkk 2001 Pengantar
Peternakan Di Daerah Tropis. Yogyakarta;Gajah mada university
press.
Arifin,
2008 Ransum Ternak
Ruminansia. Penebar swadaya.
Bogor
Ashley, 2006 Konsep- konsep Sistem Pencernaan. Gramedia. Medan.
Bearkly,
2006 Dairy
Cattle and Milk Production.The Macmillan
Company.
Blakely, AnIntroduction to Practical
Animal Breeding.Granada
Publishing London,Toroto,Sydney, New York.
Girisonta,
2000 Ensiklopedia
Biology, Ghalia
Putra Indonesia. Jakarta.
Hardiyanto,
2008 Terbak Perah. Erlangga. Yogyakarta
Ida Bagus, D, 2005 Mekanisme Sistem Pencernaan. Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Surakarta.
Judkins dan
keener, 2006 SNI Yoghurt-(SNI 01-2981-1992.1992). Dewan
Standardisasi Nasional. Jakarta.
KaruniaHarlina, 2002 PetunjukPraktisBeternakSapiPerah.
PenerbitKanisius, Yogyakarta.
Mozes, R, T 2007
FisiologiSifatFisik Dan Kimia Susu. (Online)
(Http:://Fh.Ugm.Ac.Id/Fisiologi-Sifat-Fisik-Dan-Kimia-Susu.Html) DiunduhTanggal
20 November 2011
RessangdanNasution, 2004
IlmuMakananTernak.Penerbit PT GramediaPustakaUtama, Jakarta.
Sarwono, 2007 Pembudidayaan Ternak Perah . Cv. Yasaguna. Jakarta.
Sharir, dkk 2008
IlmuPeternakan.GadjahMada University Press, Yogyakarta. (DiterjemahkanOleh B.
Srigandono).
Sorybasya, 2004 PetunjukPraktisBeternakSapiPerah.
PenerbitKanisius, Yogyakarta.
Siregar, 2005 Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. PT. Raja. Jakarta.
Subroto,
2003 Mikrobiologi Pangan . PT.
Gramedia Pangan Utama. Jakarta.
Tillman, 2001IlmuMakananTernakDasar.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 1991.