Minggu, 16 Oktober 2016

laporan praktikum produksi ternak perah

I.     PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Susu merupakan sumber protein, sumber energi sehingga dapat memberikan  kepada kita kesehatan, maka dari itu minat beli masyarakat sangat tinggi walaupun harga susu kadang-kadang naik tetapi tidak menyurutkan daya beli masyarakat terhadap produksi susu.
Susu merupakan hasil utama dari ternak selain daging dan telur yang sangat diminati oleh masyarakat  dan susu sangat bermamfaat bagi kebutuhan manusia tetapi juga sangat dibutuhkan oleh anak dari ternak itu sendiri, karena air susu yang pertama kali keluar dari induk mengandung banyak sekali anty bodi atau pelindung tubuh anak agar tidak mudah terserang oleh berbagai penyakit yang bisa menyebabkan ternak itu cacat atau mati.

1.2         Tujuan Praktikum
Praktikum Produksi Ternak Perah sangat penting sekali bagi kehidupan manusia, karena hasil yang diharapkan dapat menambah wawasan yang lebih luas tentang susu, sehingga mahasiswa dapat memahami peranan susu yang sebenarnya dan paham untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena susu mengandung gizi tinggi dan seimbang yang ditumbuhkan manusia untuk mengetahui proses terjadinya susu dan kegunaannya, serta berbagai jenis dan bangsa ternak yang dapat menghasilkan susu maka perlu pemahaman tentang aspek yang mendasar tentang ternak perah. 




II.  TINJAUAN PUSTAKA
Dengan metode tuang yang digunakan untuk menghitung mikroba, jumlah mikroba yang dihasilkan tidak banyak tetapi penumbuhan mikroba pada metode tuang lebih rata daripada metode sebar (James.N, 2003).
Metode sebar adalah salah satu metode cara sensitive unuk menumbuhkan mikroba. Karena banyak sel yang hidup yang dihitung, beberapa mikroba dapat dihitung sekaligus (Siregar, 2004)
Susu yang banyak mengandung mikroorganisme phatogen dalam jumlah besar yaitu dari hewan yang menderita radang ambing (Mastitis). Mikroorganisme pada ambing dan puting yang kasar antara lain bakteri asam laktat, kloroform, dan bakteri negative lainnya. (Subroto, 2005)
Bakteri ada yang bersifat phatogen yang dapat merugikan dan bakteri non phatogen yang dapat memberikan keuntungan (Devendra, 2008).
Metode hitungan cawan yaitu metode tuang dan sebar merupakan metode paling sensitive dalam menentukan jumlah mikroba marena hanya sel hidup yang dapat dihitung (Mozes, 2007).
Jumlah bakteri terhitung pada suatu pengenceran hasilnya dua kali lebih besar dari pada jumlah bakteri terhitung pada pengencer sebelumnya, maka yang digunakan adalah jumlah bakteri pada pengenceran yang besar.(Hediwiyoto, 2002)
Metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop Metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu :Metode tuang (pour plate), Metode permukaan (surface / spread plate). (Fardiaz, 2003)       



III.   MATERI DAN METODA
3.1    Waktu dan Tempat
Praktikum Produksi Ternak Perah ini dilaksanakan pada hari Selasa, 24 November 2015 pada pukul 14.00WIB sampai dengan selesai, yang bertempat di Laboratorium Fakultas PeternakanGedung C, Universitas Jambi.

3.2    Materi
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi susu adalah pelarut (phosphate buffer, peptone water 0,1%), media: PCA (Plate Count Agar), botol 150 ml atau tabung rekasi 20-50 ml steril, pipet steril 1ml, 5ml, 10ml dan 11 ml, penyedot pipet (bola karet), cawan petri steril, incubator,methilen blue loffer, alkhohol 96%, alkhohol: ether 96% (1:1), minyak emersi, gelas objek, ose plantina bengkok, kertas cetakan dengan ukuran 1X1 cm2, pipet breed, pembakar Bunsen, mikroskop, reagen CMT dan paddle test.

3.3    Metoda
            Adapun metoda dari Perhitungan Mikroba secara Tidak Langsung dengan Metode Hitungan Cawan melalui Metode Tuang pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi Susu adalah beri label pada botol atau tabung reaksi yang berisi larutan pngencer dan cawan petri. Lakukan pengenceran sample secara decimal (menjadi pengencer 1:10, 1:100, 1:1000 dan seterusnya). Skema cara pengenceran dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini. Ambil sample 0,1 ml atau 1 ml yang telah diencerkan dan masukkan kedalam cawan petri. Tuangkan media agar cair (suhu 44-450C) sebanyak 12-15 ml untuk setiap cawan petri ( penuangan ini tidak boleh lebih dari 15 menit). Selama penuangan media tutup cawan tidak boleh dibuka terlalu lebar.Segera setelah penuangan media agar cair, goyangkan cawan membentuk angka 8 di atas meja untuk menyebarkan sel mikroba.Biarkan sampai media agar memadat.Setelag agar memadat, masukkan cawan petri kedalam incubator dengan posisi terbalik selama 24-36 jam pada suhu 30-320C.Hitung jumlah koloni yang terdapat pada agar dan laporkan sebagai jumlah koloni per ml.
            Adapun metoda dari Perhitungan Mikroba secara Tidak Langsung dengan Metode Hitungan Cawan melalui Metode Sebar atau Permukaan pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi Susu adalah tuangkan 15 ml agar cair kedalam cawan petri dan biarkan memadat. Pipet sampel yang sudah diencerkan 0,1 ml dan tuangkan diatas agar yang sudah memadat. Sebarkan larutan sampel kedalam seluruh permukaan agar dengan menggunakan ose Bangkok.Biarkan sampel mongering selama 15 menit, kemudian cawan petri dibalik dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 30-320C.Lakukan perhitungan koloni yang terdapat dalam agar.
Cara menghitung koloni:
Koloni per ml = jumlah koloni x
            Adapun metoda dari Perhitungan Mikroba secara Langsung dengan Metode Hitungan Mikroskopik pada Praktikum Pemeriksaan Mikrobiologi Susu adalah bersihkan gelas objek dengan sabun dan air atau dengan alcohol, kemudian keringkan dengan melewatkannya dengan beberapa kali di atas api. Letakkan objek gelas tersebut di atas kertas cetakan. Teteskan susu 0,01 cc ke atas gelas objek dengan pipet breed, kemudian sebar-ratakan sesuai dengan cetakan (1X1 cm2) menggunakan ose bengkok yang steril. Kering-anginkan gelas objek selama 5-10 menit (sampai kering).Celupkan gelas objek ke dalam eter alcohol selama 2 menit untuk menghilangkan lemaknya.Lakukan pengeringan di udara, kemudian rendam adalam larutan methilen blue loffer selama 1 menit.Celupkan kedalam alcohol 96% sampai gelas objek tidak terlihat keluar, kemudian keringkan di udara. Teteskan minyak emersi ditiap luasan tadi, lalu baca dibawah mikroskop pembesar 100X sebanyak 10 lapang padang, kemudian rata-ratakan.
Cara menghitung koloni:
·         Tentukan diameter lapang pandang (mm) sampai decimal ketiga, kemudian konversikan ke cm (1 mm= 0,001 cm).
·         Hitung luas lapang pandang mikroskop dengan rumus πr2 (cm2) dimana π = 3,1416 dan jari-jari lapang pandang dalam cm (diameter x 0,50).
·         Hitung jumlah lapang pandang dalam cm yaitu 1/πr2.
·         Karena hanya menggunakan 0,01 ml susu yang disebar di atas permukaan seluas 1 cm2, maka jumlah lapang pandang dikalikan 100. Nilai ini disebut factor mikroskopik.
·         Jumlah kuman tiap cm= 1/ πr2 x 100 x jumlah kuman pada lapang pandang.



IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN
  
Metode hitungan cawan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan metode tuang dan metode sebar.
Metode hitungan cawan yaitu metode tuang dan sebar merupakan metode paling sensitive dalam menentukan jumlah mikroba marena hanya sel hidup yang dapat dihitung (Mozes, 2007).
• Metode Tuang
Dengan metode tuang yang digunakan untuk menghitung mikroba, jumlah mikroba yang dihasilkan tidak banyak tetapi penumbuhan mikroba pada metode tuang lebih rata daripada metode sebar (James.N, 2003).
Pada metode hitungan cawan, perhitungan dengan menggunakan cawan tuang sedikit lebih baik, karena dapat mengurangi kemungkinan kesalahan pada saat penyebaran.Bakteri ada yang tidak tumbuh, salah satu penyebab yang mungkin terjadi adalah batang penyebar yang terlalu panas. Penyebaran yang kurang merata juga menjadi salah satu faktor yang membuat bakteri tumbuh secara bertumpuk dan susah dihitung. (Anonim, 2009)
a.    Metode Sebar (Permukaan)
Metode sebar merupakan suatu meode yang dapat menumbuhkan mikroba dengan jumlah yang banyak (Ida .B, 2006).Metode sebar adalah salah satu metode cara sensitive unuk menumbuhkan mikroba. Karena banyak sel yang hidup yang dihitung, beberapa mikroba dapat dihitung sekaligus (Siregar, 2004)
Metode cawan sebar (spread plate) sebar, 0.1 ml suspensi bakteri yang telah diencerkan disebar pada media penyubur steril yang telah disiapkan. Selanjutnya, suspensi dalam cawan diratakan dengan batang penyebari agar koloni tumbuh merata pada media dalam cawan tersebut, kemudian diletakkan dalam inkubator (37oC) selama 24 jam. Metode ini cukup sulit terutama saat meratakan suspensi dengan batang penyebar. Oleh karena itu, batang penyebar harus benar-benar steril, yaitu dengan mencelupkannya terlebih dahulu dalam alkohol kemudian dipanaskan dengan api bunsen. Batang penyebar yang masih panas akibat pemanasan dengan api bunsen, dapat merusak media agar, sehingga harus didinginkan terlebih dahulu dengan meletakkannya di sekitar api bunsen (±15 cm). Dengan metode ini, satu sel bakteri akan tumbuh dan berkembang menjadi satu koloni bakteri. Satu koloni bakteri yang terpisah dengan koloni lainnya dapat diamati tipe pertumbuhan pada masing-masing media, diantaranya dilakukan terhadap konsistensi, bentuk koloni, warna koloni dan permukaan koloni (Riesama, 2010).


Susu yang banyak mengandung mikroorganisme phatogen dalam jumlah besar yaitu dari hewan yang menderita radang ambing (Mastitis). Mikroorganisme pada ambing dan puting yang kasar antara lain bakteri asam laktat, kloroform, dan bakteri negative lainnya (Subroto, 2005)
Susu setelah diinkubasikan, koloni yang tumbuh dihitung dianggap bahwa 1 koloni berasal dari satu sel atau satu spora bacteria (Pelczar dan Reid, 2000).
Bakteri ada yang bersifat phatogen yang dapat merugikan dan bakteri non phatogen yang dapat memberikan keuntungan (Devendra, 2008).
Sejumlah kecil bakteri tidak mempngaruhi segera sita rasa, bau susu atau sifat-sifat fisik dan kimianya (Subrinto, 2003).
Susu yang baik apabila mengandung jumlah bakteri sedikit, tidak mengandung spora mikrobia pathogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa (flavour) yang baik, dan tidak dipalsukan (Anonim
Kisaran hitung yang normal adalah selitar 25-250 koloni/cawan. (Breed dan Dotterrer, 2006)
Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pengenceran desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan 10-5.Dan yang diplating dan diamati adalah pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5.Hal ini karena diperkirakan koloni yang terbentuk oleh Escherichia Coli berada pada jumlah yang dapat dihitung pada pengenceran tersebut. Selain itu, perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara desimal.  (Benhards, 2008)       
Bila jumlah bakteri terhitung pada suatu pengenceran hasilnya dua kali lebih besar dari pada jumlah bakteri terhitung pada pengencer sebelumnya, maka yang digunakan adalah jumlah bakteri pada pengenceran yang besar.(Hediwiyoto, 2002)
Menghitung jumlah mikroba yang hidup dalam susu dengan cara ditumbuhkan dalam media agar sehingga dapat langsung dilihat metoda ini paling sensitive untuk menentukan jumlah mikroba karena hanya sel yang masih hidup yang dapat dihitung. (Salle, 2000)
Kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali (triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda. (Tomasiewicz, 2006)
Pengenceran digunakan karena untuk menumbuhkan bakteri pada media yang terbatas tidak mungkin dilakukan penghitungan bakteri yang berjumlah puluhan ribu.Pengenceran ini dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan bakteri pada sampel (Pelchzar, 2006). 
Proses netralisasi dan penambahan asam okslat jenuh, penambahan formalin akan membentuk gugusan dimetinol. Dengan terbentuknya gugusan dimetinol berarti gugusan amino  sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi gugusan karboksil (asam) dengan NaOH (basa), sehingga akhir titrasi dapat ditentukan dengan tepat. Jumlah NaOH yang terpakai adalah setara dengan presentase protein susu”.



• Faktor untuk susu 1,83, casein 1,63.
Kadar Protein (%) = titrasi formol x factor 1,83
                                    = (titrasi kedua-titer blanko kedua) x factor 1,83
                                    = (2,1-0,3) x 1,83
                                    = 3,294 %
Kadar Casein (%) = titrasi formol x factor 1,63
                                    = (titrasi kedua-titer blanko kedua) x factor 1,63
                                    = (2,1-0,3) x 1,63
                                    = 2,934 %
Kadar N (%)   =  x N.NaOH x 14,008
                        =  x N.NaOH x 14,008
                        =  x 0,1 x 14,008
                        = x 1,4008
                        = 0,025 %






V.           PENUTUP
5.1         Kesimpulan
            Perhitungan sel secara langsung, terdiri dari volumetrik, gravimetrik, kekeruhan perhitungan massa sel secara tidak langsung, terdiri dari analisis komponen sel, analisis produk katabolisme, dan analisis konsumsi nutrient. metode cawan tuang mudah dilakukan karena tidak membutuhkan keterampilan khusus dengan hasil biakan yang cukup baik.

5.2         Saran

            Praktikan sebaiknya disiplin lagi dengan peraturan yang telah dibuat dan lebih tertib untuk kedepannya.






DAFTAR PUSTAKA
Alten D. Tilman, 2008PerbedaanHewanRuminansiadan Non Ruminansia. http://mellyhatulhasanah.blogspot.com/2011/11/perbedaan-hewan-ruminansia-dan-non.html. 2011.
Adiyane,dkk  2001 Pengantar Peternakan Di Daerah Tropis. Yogyakarta;Gajah mada university press.
Arifin, 2008 Ransum Ternak Ruminansia. Penebar swadaya. Bogor
Ashley, 2006 Konsep- konsep Sistem Pencernaan. Gramedia. Medan.
Bearkly, 2006 Dairy Cattle and Milk Production.The Macmillan   Company.      
Blakely, AnIntroduction to Practical Animal Breeding.Granada                         Publishing London,Toroto,Sydney, New York.
Girisonta, 2000 Ensiklopedia Biology, Ghalia Putra Indonesia. Jakarta.
Hardiyanto, 2008 Terbak Perah. Erlangga. Yogyakarta
Ida Bagus, D, 2005 Mekanisme Sistem Pencernaan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Judkins dan keener, 2006 SNI Yoghurt-(SNI 01-2981-1992.1992). Dewan  Standardisasi Nasional. Jakarta.
KaruniaHarlina, 2002 PetunjukPraktisBeternakSapiPerah. PenerbitKanisius, Yogyakarta.
Mozes, R, T 2007 FisiologiSifatFisik Dan Kimia Susu. (Online) (Http:://Fh.Ugm.Ac.Id/Fisiologi-Sifat-Fisik-Dan-Kimia-Susu.Html) DiunduhTanggal 20 November 2011
RessangdanNasution, 2004 IlmuMakananTernak.Penerbit PT GramediaPustakaUtama, Jakarta.
Sarwono, 2007 Pembudidayaan Ternak Perah . Cv. Yasaguna. Jakarta.
Sharir, dkk 2008 IlmuPeternakan.GadjahMada University Press, Yogyakarta. (DiterjemahkanOleh B. Srigandono).
Sorybasya, 2004 PetunjukPraktisBeternakSapiPerah. PenerbitKanisius, Yogyakarta.
Siregar, 2005 Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. PT. Raja. Jakarta.
Subroto, 2003 Mikrobiologi Pangan . PT. Gramedia  Pangan Utama. Jakarta.
Tillman, 2001IlmuMakananTernakDasar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 1991.